Monday, April 7, 2008

Selamat Ulang Tahun dari Ayah

Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana
orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang
semula tercurah pada tugas statistik beralih ketika seorang wanita
bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari
sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta.
Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak
satupun yang dikerjakan olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras
untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya,
namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan.

Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang
keluar dari mulut ayahnya. Hal ini membuat wanita itu semakin
membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok
yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia
memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar
dengan ayahnya.

Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu
meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan
kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan
kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa
benci terhadap ayahnya.

Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang
peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus
dengan rapi dan diatasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan
hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai membukanya. Di
dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama
ia idam-idamkan. Disamping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu
ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka
kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang
ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.

Ya Tuhan,Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah
ini. Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku Kumohon Ya
Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi
sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas
membentang Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat
meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi kumohon Ya Tuhan,
Sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh Jadikan ia
sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku Doa ayah selalu
menyertaimu...

Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam
kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi.
Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan
tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu
akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja merahasiakan
penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi
wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan
sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang
diderita ........

No comments: