Friday, April 11, 2008

Kisah Keberuntungan Hidup si Wowi

Banyak sekali manusia di dunia ini yang sangat membutuhkan kejutan berarti
dalam hidupnya. Namun, belum tentu semua orang seberuntung Wowi Pranata. Wowi
adalah anak semata wayang dari pasangan Pranata. Teman-temannya sempat
mengejeknya karena namanya yang aneh.

Namun, Wowi justru hanya tersenyum sambil meremehkan orang-orang bodoh yang
sering melecehkan namanya. Wowi tahu, namanya agak aneh. Tapi, yang
membuatnya bisa tersenyum adalah dia tahu makna di balik namanya itu.

Wowi diambil dari kata "Wow!". Biasanya, kata "Wow!" menandakan adanya
suatu
kejutan, sedangkan huruf "I" dari nama Wowi itu hanya simbol tanda seru yang
dibalik.

Dulu, Wowi dan kedua orang tuanya adalah seorang pemulung yang sering
memungut sampah-sampah. Lalu, semuanya berubah ketika Wowi menggosok kupon
undian yang didapatnya dari salah satu merek minuman terkenal. Ada tulisan
Selamat! Anda mendapatkan sebuah rumah di dalamnya.

Ketika mengetahui hal itu, kedua orang tua Wowi seketika menciumnya hingga
seluruh wajah dan rambutnya penuh dengan ail liur. Seminggu kemudian, rumah
yang letaknya dekat dengan perumahan artis-artis terkenal itu berhasil mereka

tempati.

Alhasil, banyak orang yang meliput berita mereka. Bahkan, seluruh headline
koran memuat berita tentangnya, mengalahkan semua berita artis yang selalu
gonta-ganti pasangan.

Selang beberapa hari, salah satu rumah produksi terkenal mengontraknya untuk
bermain sinetron kejar tayang. Seluruh artis muda yang tinggal dekat rumahnya
mulai menyukai Wowi. Wowi pun sangat senang. Hanya karena ia menghargai
namanya, nasibnya bisa berubah 180 derajat. Tujuh belas tahun tahun telah
berlalu.

Wowi tumbuh menjadi laki-laki dewasa. Wajahnya yang dulu penuh dengan debu
dan kotoran sekarang sudah bersih mengilap seperti berlian. Badannya yang
dulu setipis benang sekarang sudah atletis, idaman seluruh wanita.

Sekarang Wowi terbaring di tempat tidur, mengingat seluruh kenangannya
sewaktu kuliah dan sekolah dulu. Lalu, ia mengambil foto wisudanya setahun
lalu. Ada seorang bapak tua dengan kepala botak dan berwajah mengerikan di
sampingnya. Wowi ingat, dosen yang mengajar ekonomi itu adalah Pak Hendro. la
suka sekali bertingkah seperti perempuan. Lebih parahnya lagi, Pak Hendro

suka memegang paha Wowi.

Namun, semuanya berakhir ketika Wowi membisikkan kata "waria" ke telinganya.
Sejak itu, Pak Hendro menghindarinya. Namun, entah bagaimana, skripsinya
mendapat nilai A. Padahal, waktu itu Wowi sudah sangat putus asa. Setelah
itu, Pak Hendro menghilang.

Hari ini, tepat setahun sudah dirinya menganggur dan menjomblo. Tak terhitung
sudah banyaknya lowongan yang ditawarkan kepadanya. Semuanya ditolak. Kedua
orang tua Wowi hanya bisa pasrah melihat kelakuannya.

Namun, Wowi punya rencana. Hari ini, dia akan melamar ke PT Kartika Utama,
perusahaan yang cukup terkenal. Wowi menyiapkan segala sesuatu yang berguna
untuk lamarannya nanti. Kemudian tanpa berpamitan, Wowi langsung bergegas
dengan motor sport barunya itu. Selang 30 menit kemudian, Wowi sampai di
kantor tersebut. la kaget melihat gedung yang menjulang tinggi hingga
mencapai awan itu. Semangat Wowi kembali menyala. la bergegas masuk menuju
lantai 100, tempat direktur utama.

Wowi terperangah memandang ruangannya. Ruang itu benar-benar luas, mungkin
seluruh isi di kamar Wowi bisa ditaruh di sana. Namun, Wowi lebih menganga
lagi ketika melihat sesosok cewek di depannya. Wanita itu berparas anggun,

rambutnya yang bergelombang dibiarkan berkibar seperti bendera. Ia memandang
Wowi dengan keheranan.

"Maaf, saya ingin melamar pekerjaan di sini," kata Wowi. Wanita itu agak
kaget. "Ini suratnya," kata Wowi. Bu Kartika memeriksa surat lamaran Wowi.
la
membolak-balik halaman surat tersebut dengan cermat. Sementara itu, Wowi
mencuri-curi pandang ke tangan Bu Kartika. Tidak ada cincin di tangannya!
Berarti, ia belum kawin!, pikir Wowi.

Beberapa menit kemudian, Bu Kartika menutup dokumen itu dan memandang
Wowi. "Kamu diterima," katanya sambil tersenyum.

"Tanpa wawancara?" tanya Wowi keheranan. Bu Kartika memandang dokumen itu
lagi, "Aku pikir, kemampuanmu sudah cukup bagus".

"Wow!" kata Wowi dalam hati.

Sejak saat itu, Wowi mulai bekerja di perusahaan Bu Kartika. la menjadi
asisten pribadinya. Wowi merasa sangat beruntung. Itu berarti, dia bisa lebih
dekat dengan Bu Kartika. Bahkan tanpa segan, Wowi sering sekali membelikan
makanan untuk Bu Kartika meski itu hanya pangsit di pinggir jalan.


Wowi pun merasakan respons positif dari Bu Kartika. Belakangan, Bu Kartika
sering sekali meneleponnya tengah malam. Mereka berdua membicarakan banyak
hal. Wowi merasa senang. Bu Kartika kau ada di genggamanku sebentar lagi!,
katanya dalam hati.

Waktu sudah berjalan 3 bulan. Hubungan mereka seperti amplop yang ditempeli
prangko. Di mana ada Wowi di situ pula ada Bu Kartika. Hal ini membuat rekan-
rekan kerjanya bertanya-tanya, kenapa orang seperti Wowi bisa berdekatan
dengan anak konglomerat seperti Bu Kartika. Bisik-bisik selalu terdengar
setiap kali mereka berdua lewat.

Meski begitu, Wowi masih merasa kesusahan untuk mengungkapkan cintanya.
Apalagi belakangan ini, jadwal harian Bu Kartika selalu penuh dengan meeting.
Wowi mencoba bersabar menunggu jadwal kosong.

"Apa jadwalku hari ini, Wowi?" tanya Bu Kartika di hari Senin yang cerah.
Wowi memandang buku jadwal hariannya.

"Hari ini jadwal Bu Kartika adalah... Nomat bersamaku." Dokumen-dokumen yang
dipegang Bu Kartika langsung terjatuh seketika. Wowi kaget melihat ekspresi
Bu Kartika


"Tentu saja aku mau, Wowi," kata Bu Kartika sambil tersipu malu. Beberapa
menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di bioskop. Wowi merasa gugup dan
ketakutan. Seluruh badannya kejang mendadak. Ayo, Wowi, kalau tidak hari ini,
kapan lagi! seru hatinya menyemangati.

Akhirnya, Wowi memberanikan diri mendekat kepada Bu Kartika.

"Bu, aku ingin mengatakan sesuatu..." Bu Kartika langsung memandangnya. "Apa
itu?" Mulut Wowi langsung sakit. "Aku... cin..." Wowi terhenti lagi. Belum
pernah ia merasa sesulit ini untuk mengatakan sesuatu. Sementara itu, Bu
Kartika masih memandangnya kebingungan.

"Aku... cinta... kamu." lanjut Wowi melawan seluruh sakit di badannya. Bu
Kartika tersipu lagi. "Aku juga," katanya.

Tiba-tiba, seluruh badan Wowi terasa ringan. Ia merasa lebih beruntung
daripada Donald Trump. Bu Kartika pun mengerucutkan bibirnya dan mulai
mendekati Wowi. Wowi juga mulai mengerucutkan bibirnya. Jarak mereka semakin
mendekat tiga senti, dua senti, satu senti... BRAKK!

Tas Bu kartika terjatuh. Sial! kata Wowi dalam hati. Segera Wowi membantu Bu
Kartika membereskan barangnya. Pada saat itu juga, Wowi menemukan sebuah foto
laki-laki, di dadanya terdapat begitu banyak bulu. Yang lebih menjijikkan, ia
berpose seperti model. Perlahan, Wowi memungut foto itu.

"Siapa ini?" tanya Wowi agak marah. Bu Kartika kembali tersipu. "Oh itu...
itu foto waktu aku sebelum operasi..."

Badan Wowi seakan tersambar petir mendengar itu. Sebelum operasi... sebelum
operasi... kata tersebut terus terngiang di telinga Wowi. Kemudian, Wowi
memandang foto itu lagi. Ia langsung menggeleng tak percaya. "Pak Hendro..."
Dengan takut, Wowi memandang Bu Kartika lagi.

"Senangnya bisa memegang pahamu lagi" kata Bu Kartika sambil memegang paha
Wowi.
"AAAAARRRGGGGHHHH!"

Sejak itu Wowi sadar, keberuntungan belum tentu membawa cinta.


Oleh: Andi Kurniawan Suhendra

No comments: