Tuesday, October 21, 2008

10 minutes to know what`s going on out there !

Terhadap resesi ekonomi yg terjadi akhir- akhir ini, banyak artikel, majalah, koran,selebaran, poster dan sebagainya pada menulis satu kata sebagai penyebab utamanya yaitu subprime crisis yg terjadi di Amerika, yaitu dalam bahasa simple nya utang kreditan rumah yg tidak sanggup dibayar oleh para homeowner.

Tetapi bukankah utang kredit rumah di Amerika itu sendiri jika dikalkulasikan secara kasar "hanya" sebesar 100 Billion USD, tapi kenapa rescue package yg disiapkan pemerintah Amerika itu sendiri mencapai nilai total sebesar 700 Billion USD; yg dimana sudah dicairkan sebesar 200 Billion USD ke market untuk menolong badan financial yg terlilit utang sana sini? Apakah bener krisis financial yg sudah melanda hampir seluruh dunia ini dengan ditandai dengan collapse beberapa badan financial dan bank ini hanya karena harga rumah di Amerika yg menurun?

Banyak analisis dan economist, ataupun analisis gadungan di koran2 dan majalah banyak menjelaskan akar dan penyebab dari krisis terburuk yg melanda seluruh dunia dgn menggunakan istilah dan bahasa yg kita org awam sambil dengan bolak balik kamus pun ga bakal ngerti apa yg dia org tulis.
Well, karena sebegitu kurang kerjaannya aku, maka tiap mengikuti setiap cerita di balik krisis financial ini, maka izinkanlah aku dengan bahasa yg sesimpel mungkin dan dengan ilustrasi yg sesederhana mungkin menjelaskan apa yg sebenarnya terjadi di Amerika sampai-sampai harga karet dan koprah di pelosok Indonesia pun bs ikutan turun.

Mari kita menyimak beberapa point penting berdasarkan skenario di bawah ini.

Kredit Rumah
Istilah gampangnya, pinjem duit untuk beli rumah. Pada awal tahun 1990an, di Amerika lage ngetrend yg namanya kreditan, mulai dari rumah, mobil, motor, computer, perabot, tuition fee anak, dan masi banyak lage. Satu yg paling popular adalah kreditan rumah, banyaknya perusahaan pengkreditan yg bermunculan seperti jamur di musim hujan yg menawarkan pinjeman duit kepada penduduk untuk membeli rumah. Papan iklan dengn tulisan seperti berikut: “ Anda masi kontrakan? Ke laut aje, sekarang saatnya miliki rumah sendiri dengan kredit dari perusahaan XXX dengan suku bunga hanya 1% per bulan dengan bonus keliling White House apabila anda melunasi kredit dalam 2 tahun.” membanjir di seluruh pelosok Amerika. “Takut tidak bs membayar lunas kreditan dalam jangka wkatu yg ditentukan? Tenang, harga rumah tahun depan bakal naek berkali-kali lipat, tahun depan anda tinggal jual rumah anda, kredit dan bunga lunas dibayar, anda masi dapet untung. Masi tunggu apalagi? Buruan pinjemlah duit!!!” Slogan ini tidak kalah nyaring terdengar di saat itu. Dan seluruh penduduk Amerika meski yg gaji bulanannya hanya pas buat sendiri, tapi masi punya istri dua dan anak lima pun bias sanggup punya rumah sendiri. Dan bener, harga rumah tiap tahun naik terus dan terus dan terus. Perusahaan kredit untung, pemilik rumah tenang.

Greedy Investment
Nah, sebagai manusia yg punya otak bisnis, pasti mengerti ini adalah sebuah momen yg tepat untuk meraup untung dengan harga rumah yg meningkat terus setiap tahunnya. Badan financial semisal investment bank tentu mencium aroma investasi dan profit di balik ini. Untuk selanjutnya aku bakal menggunakan ilustrasi sederhana dan angka perkiraan kasar untuk mejelaskannya, jika ada yg tidak mengerti tolong tunjuk tangan.
Investment Bank A menggunakan system investasi yg aku sendiri menyebutnya greedy investment, misalnya Bank A dengan menggunakan total assetnya sebesar 3 Billion USD sebagai jaminan untuk meminjem duit dari perusahaan kredit sebesar 30 kali lipat dari assetnya yakni sebesar 90Billion USD untuk dipakai sebagai investasi dalam perumahaan or real estate. Semisal profit dari investasi di perumahaan itu sebesar 5 %, maka Bank A bakal mendapatkan profit 4.5 Billion USD, dibandingkan dgn assetnya yg hanya 3 Billion USD, berarti bank A dlm waktu singkat bs mendaptkan profit sebesar 150% dari total assetnya. Tapi jika investasi ini merugi sebesar 5% jg, maka Bank A selain kehilangan seluruh assetnya masi mesti nangguk utang sebesar 1.5 Billion USD.

Credit Default Swap (CDS)
Istilah ini mungkin sangat popular di seluruh koran dan majalah yg membahas ttg ekonomi dan finance, sangat besar kemungkinan abang beca di jalanan jika anda tanyain bakal tahu apa itu singkatan dari CDS. So, what is CDS?
Bank A di atas dengan investasi yg beresiko tinggi seperti itu tentu harus ada mencari cara atau media untuk mengurangi resiko jika investasi 90 Billion USD nya gagal atau merugi. Maka dicarilah perusahaan asuransi B dan mulai melobi si B untuk menjamin investasi 90 Billion USD nya itu dengan isi perjanjianny kasarnya sebagai berikut :

” A bakal membayar premi tahunan kepada B sebesar 50 million USD selama 10 tahun, total 500 million USD untuk menjamin investasinya. Apabila A selama 10 tahun investasi nya merugi dan tidak sanggup membayar kreditnya maka B harus membayar biaya asuransi kepada A dan apabila A selama 10 tahun investasi nya untung dan sanggup membayar lunas semua credit nya, maka B mendapatkan premi sebesar 500 million USD secara cuma-cuma. “

A dengan asumsi investasi nya untung maka dia bs dapet profit sebesar 4.5 billion USD, keluarin duit 500 million USD buat asuransi tentu dia masi bs untung 4 billionUSD, apabila investasi nya rugi, masi ada perusahaan asuransi B yg membayar ganti ruginya, ini jelas sebuah process yg sama sekali ga ada ruginya buat A.

B menerima proposal dari A, jelas mesti pulang, buka computer and doing some research dan menemukan ternyata di market sekarang kejadian investasi perumahan bs merugi itu hanyalah sebesar 1% dari total seluruh investasi, jadi tidak usa dengan kalkulator juga bs teritung dengan jelas bahwsannya ada kemungkinan 99% dia bakal sukses menerima premi gratisan sebesar 500million USD dari A jika dia menerima proposal asuransi itu.
Ini hanya 1 perusahaan A, bagaimana kalau ada 100 perusahaan A, berarti B bs dengan gampangnya menerima premi 50 billion USD dengan cuma-cuma. Ok, ngomong lah ada 1 perusahaan yg merugi dan B mesti membayar ganti rugi sebesar 5 billion USD, bahkan mungkin za 2 perusahaan investasi nya gagal dan B mesti bayar ganti rugi sebesar 10 billion USD, in the worst case B masi tetap bisa dapet untung bersih 40 Billion USD.

Well, terang za B lgsg kegirangan mengetahui adanya kesempatan buat meraup untung gede dengan resiko rugi hanya 1%ini. It`s a win-win solution for both A and B. Maka, bersalamanlah A dan B, hitam di atas putih dan terjadilah contract dengan nama kerennya CDS ini.

CDS market
Dengan sukses meraup untung sebesar 40 Billion USD hanya dgn CDS ini, B terang za bakal membuat iri, cemburu, dengki dari pihak laen. Maka datanglah C kepada B dan berkata:
“ Gini, aku kasi kamu 20 Billion USD, 100 CDS yg ada di tangan kamu itu jual ke aku za, gimana?”
B berpikir dalam hati, “ Profit yg aku kalkulasikan di atas sebesar 40 Billion USD itu baru bakal aku dapatkan 10 tahun kemudian, itu pun dengan syarat hanya 2 perusahaan A yg gagal di dalam investasi. Sekarang ada orang datang nawarin duit cash 20 Billion USD , so why not?”
Maka dijuallah 100CDS seharga 40 Billion USD itu dengan nilai jual 20 Billion USDkepada C.

C tentu tidak lah bodoh untuk tunggu sampai 10 tahun untuk mendapati 40 Billion USD nya itu cair, maka dijuallah 100CDS itu kepada D keesokan harinya sebesar 22 Billion USD. Dalam sehari za C untuk mendapatkan untung bersih 2 Billion USD.
D juga kemudian jual lagi ke E 100 CDS(nilai nominal masi sebesar 40 Billion USD) itu sebesar 24 Billion USD, dan untung 2 Billion USD dalam sekejap.

Wow, bisnis mana yg bisa dapat profit segede ini dalam sekejap ini, you tell me?
Maka resmilah CDS itu diperjualbelikan di pasar (pajak, istilah orang Medan; market istilah bule sono) dan menjadi barang terpopuler di dunia perbankan dan investasi di seluruh Amerika.
Dan harga total seluruh nilai nominal CDS yg beredar di pasar saat ini sudah mencapai sebesar 62 Trillion USD.

PS: sekedar mengingatkan para pembaca; million = 6 zeroes, billion = 9 zeroes and trillion= 12 zeroes

Suprime crisis
Harga rumah yg terus naik terus menerus tentu menguntungkan kesemua pihak di atas. Dan tibalah saatnta harga rumah sudah naik sampai tidak bisa naik lagi dan stuck di titik tertingginya dan mulai menurun harganya.
Dan seperti scenario di atas, CDS berpindah tangan terus dari E ke F, F ke G, G ke H,dan seterusnya sampailah ke tangan si L, harga rumah sudah mentok dan mulai menurun dan akhirnya CDS di tangan L nilai nominal nya turun dan L tidak bs menjual keluar CDS di tangannya, dan mesti membayar semua rugi dengan tidak hanya seluruh assetnya tapi juga masih mesti dengan minjem duit sana sini yg kemudian tidak sangup dibayar dan finally L announce bankrupt , collapsenya si Lehmann`s Brother di pertengahan September 2008 mengawali runtuhnya badan financial dan perbankan lainnya di Amerika dan sub prime crisis hanyalah sebuah signal penting menuju ke krisis financial yg melanda seluruh Amerika dan menjalar ke seluruh penjuru dunia, sapa suruh standard ekonomi dunia semua berpatok sama Amerika secara umum dan Dollar Amerika secara khusus.

Financial Crisis
Karena harga rumah yg turun, investasi si A gagal, seharusnya A bakal mendapatkan ganti rugi asuransi dunk, tapi kontrak asuransi (CDS) yg diperjual belikan itu sudah sampai ke tangan L dan L sekarang bangkrut, maka A sudah jatuh ditimpa tangga digigit ular dipatok burung lage, sudah investasi perumahannya gagal, ganti rugi asuransi juga tidak bisa didapet, A masi berutang 90 Billion USD kepada perusahaan kredit. A di ambang kebangkrutan. Itu hanya 1 A, bagaimana jika ada 100 A, ada A1, A2, A3, dst yg juga sekarang berada di ambang kebangkrutan karena utang credit yg sudah jauh melebihi asset kekayaan mereka masing-masing.

Pertanyaan, anda sebagai nasabah bank A, apakah anda tidak bakal takut bank anda dilikuidasi dan tabungan anda di dalamnya bakal raib tak berbekas?
Apa yg anda lakukan? Pakailah sepatu anda dan lgsg ngebut ke cabang bank A terdekat untuk menarik semua tabungan anda buat disimpen di bawah bantal tempat tidur. Maka terjadilah rush di semua bank A dan bank A mengalami kesulitan untuk mencairkan duit tunai kepada nasabah karena mereka juga kesulitan mendapatkan duit tunai, dan terjadilah kemacetan duit tunai, cash tidak bs lagi flow, masyarakat resah, bank A kemudian terpaksa minta pemerintah Amerika untuk menolong mereka yg di ambang kehancuran.

Pemerintah yg sebelumnya hanya duduk diem melihat free market yg diagung-agungkan itu berjalan dgns sendirinya, sekarang uda ga mungkin tinggal diam karena jika dibiarkan maka bank A1 bangkrut, A2, A3 dan seterusnya bakal ikutan bangkrut dan apa yg terjadi, krisis ekonomi yg bakal menghancurkan keseluruhan struktur ekonomi Amerika karena cash control yg tidak bs lagi dikendalikan.

Maka untuk itulah, pemerintah Amerika mesti nyari dana sebesar 700billion USD,tidak peduli mo rampok keq, mo jarah keq, mo pinjem keq, untuk membeli semua CDS or what they called as bad loan dari tangan perbankan untuk menyelamatkan mereka dari bankruptcy sekaligus untuk menjamin nasabah untuk tidak buru-buru menarik duit mereka dari bank sehingga perputaran duit di dalam bank masi bs jalan dan bank masi bs terus exist.

Dan sebagai standard dalam perekonomian dunia, jelas krisis yg melanda Amerika memberikan effect yg luar biasa ke seluruh dunia, dikarenakan banyaknya perbankan2 di Eropa dan Asia yg juga ikut turun menikmati CDS itu. Dan terakhir semua credit macet, bank kehilangan kepercayaan, pemilik uang tidak berani menyimpan duitnya di bank, pemegang uang tidak berani spending their money, para investor juga tidak berani invest dalam jumlah besar, boss besar tidak mendapatkan pinjeman duit buat startin their new business, project2 ditangguhkan, buruh-buruh pabrik semua pada ikutan ngaso, semua activitas ekonomi en production lesu, perusahaan demi mengurangi cost terpaksa harus memangkas jumlah karyawan nya, karet dan koprah yg hasil panennya melimpah tapi tidak menemukan pembeli terpaksa harganya ikutan turun dan para petani karet dan koprah kehilangan satu2nya mata pencaharian nya dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya.
Jangan bilang semua itu ga ada hubungannya dengan gue, itu hanya kerjaan pemerintah dan para bank, gue ga perlu tau apa-apa. SALAH BESAR!! karena cepat atau lambat pengaruh krisis financial ini bahkan melanda seluruh dunia dan kita semua pasti bakal ngerasaen semua efeknya itu hanya beda terasanya itu dalam skala kecil atau skala besar. Beware, everybody!!!!!



NB:Semua angka ataupun nilai uang yg dituliskan di post ini untuk supaya lebih gampang dibayangkan oleh para pembaca hanyalah sebuah perkiraan yg sangat kasar sekali, dan sgt mungkin sekali dalam kenyataannya nilainya jauh lebih besar dari ini.
Posting ini hanyalah sharing aku sebagai pengamat gadungan setelah mendapatkan info dan artikel dari berbagai sumber.
If you have any questions, critic, and opposition idea, please feel free to leave any comment.

Sumber: dari berbagai sumber plus otak BeGe

8 comments:

Anonymous said...

wow, tapi bknya amerika tinggal prin duit sebanyak apapun yang dia mau?
hehe...
(klo segampang itu mungkin krisinya uda selese kali yah...)

BeGe26 said...

jelas ga bisa dunk, karena kalo sempat duit cash berlebih di market bakal terjadi inflasi dalam artian kenaikan harga barang, karena semua orang punya banyak duit cash,purchasing power naek,demand meningkat, harga barang pasti bakal melonjak tinggi sesuai dengan hukum ekonomi.

Anonymous said...

Akhirnya gw ngerti,haha-thx bro,sangat membantu

Anonymous said...

mantap juga nih post-an elu bege(Y)...gw jd tau dikit2..tapi kayanya masih mao baca berkali kali lagi biar lebih ngerti....GOOD POSTING

Wilsontio said...

haha.,,ane u sim r bege! great work.!! really proud

pengko said...

wah bege.. ini tulisanmu semua? gw agak malas baca. tapi kelihatannya berbobot sekali. lagi masa2 ujian. abis selese gw coba baca. kelihatannya menarik

BeGe26 said...

hahahaha
kurang kerjaan ya nulis kayak gituan lo

Anonymous said...

HI Bege...wow tiap hari baca koran..ga sebanding dengan baca tulisanmu...selama ini saya memang penasaran dengan apa yg selama ini melanda...tapi sekarang saya masih penasaran bagaimana dengan investasi perumahan di Indonesia...maksud saya kalau kita mau bikin perumahan..its the timing right sekarang ini?..siapa tau Bege sebagai pengamat gadungan bisa punya pengamatan yg bisa dishare...